Pages

Minggu, 26 Agustus 2012

Cerita seorang laki-laki yang cerdik (The Clever man)

Ada empat orang mahasiswa kedokteran yang sedang menempuh ujian terakhir guna mendapatkan gelar dokter. Yang menguji mereka adalah seorang profesor kawakan. Mahasiswa pertama mendapat pertanyaan yang berbunyi, "apa sebabnya wanita sering kali ribut?" Jawabnya tanpa ragu-ragu adalah "Karena mereka mempunyai dua mulut, mulut atas dan mulut bawah." Profesor puas dengan jawaban itu, dan ia diluluskan ujiannya. Mahasiswa kedua mendapat pertanyaan "Tua mana antara 'mulut atas' dan 'mulut bawah'?" Jawab mahasiswa kedua adalah "tentu 'mulut bawah' Prof, karena 'mulut atas' sudah berjenggot sedangkan 'mulut atas' belum." Atas pertanyaan ini profesor juga setuju dan diluluskan ujiannya. Lalu tibalah saatnya mahasiswa ketiga yang diuji. Bunyi pertanyaannya ternyata sama dengan bunyi pertanyaan mahasiswa kedua. Namun jawabnya walaupun sama, alasannya tidak sama, karena alasannya adalah, "karena 'mulut atas' telah bergigi sedangkan 'mulut bawah' telah ompong. Atas jawaban ini sang Profesor juga setuju, sehingga mahasiswa ketiga itupun diluluskan. Berhubung pertanyaan ini adalah pertanyaan kesenangan Profesor, maka pada mahasiswa terakhir pertanyaan itupun diajukan satu kali lagi. Pertanyaannya berbunyi, "Apa benar 'mulut bawah' seorang wanita lebih tua daripada 'mulut atasnya'?" Dengan spontan mahasiswa keempat menyangkal, "salah Prof!" " Lantas bagaimana?" Tanya sang Profesor ingin tahu. Jawab mahasiswa keempat dengan penuh kepercayaan adalah, "karena 'mulut atas' jika hendak minum cukup dengan botol sedangkan 'mulut bawah' masih harus memakai dot." Profesor sependapat dengan mahasiswa terakhir ini, sehingga ia diluluskan dengan predikat cum laude.

THE LITTLE MERMAID

Banyak dari kita yang suka lagu little mermaid yang berjudul ?Under The Sea?, memang lagu yang dinyanyikan oleh Sebastian tersebut sangat terkenalDengan aksen Jamaikanya dia menghibur kita dengan lagu yang menyenangkan itu.

Kisah Little Mermaid ini boleh dibilang memiliki popularitas yang sama dengan Cinderlla dan Putri Salju. Kisah sang Putri Duyung ini pun begitu menyentuh dan disuka oleh banyak orang hingga hari ini dimana sang putrid duyung jatuh cinta terhadap sang pangeran dan hidup bahagia bersama.

Akan tetapi dalam versi sebenarnya, sang Putri Duyung, Ariel, selama menjadi manusia ternyata dibekali dengan pisau yang terselip rapi di balik rambutnya yang panjang dan tebal. Pisau itu adalah alat bela diri Auriel sehingga kalau ada orang yang mencurigai keberadaannya sebagai Putri Duyung, maka dia harus membunuh orang tersebut untuk melindungi jati dirinya dan melindungi keselamatan kerajaan Neptunus dan spesies Mermaid di laut agar tidak menjadi buruan manusia.

Akhir cerita yang sebenarnya ternyata cinta Auriel terhadap pangeran bertepuk sebelah tangan dan sang pangeran meninggalkannya untuk menikah dengan gadis lain. Hal ini membuat Ariel sangat sedih dan memilih untuk membunuh dirinya sendiri dengan pisau yang selalu terselip di rambutnya.

Dari sinilah muncul istilah “Mermaid Tears” (Air mata Putri Duyung).
Hewan Sirenia – atau dikenal juga dengan sebutan Sapi Laut / Sea Cows – disebut pula dengan nama Putri Duyung karena memiliki morfologi tubuh yang mirip dengan gambaran Putri Duyung. Hewan laut ini sering terlihat mengeluarkan air mata. Dan kini Anda sekarang jadi tau kan kenapa dia menangis?

Malam Lebaran


Abdullah meninggalkan rumahnya dengan perasaan sedih. Hari lebaran telah di ambang pintu, sementara ia tidak menemukan sesuatu untuk dipakai, ia tidak berani berbicara dan mengeluh pada ibunya. Sejak kematian ayahnya, ibunya tidak mampu memenuhi kebutuhan adik-adiknya yang masih kecil, dan sebagai akibatnya satu demi satu perabotan rumah lenyap. Ia bisa diam, tapi siapa yang akan membuat adik-adiknya diam karena mereka masih kecil-kecil, tidak tahu bahwa mereka adalah orang fakir yang tidak bisa memiliki sesuatu yang baru, kembang gula, dan mainan yang bagus. Tapi bagaimana semua itu bisa terpenuhi?
Abdullah melintasi lorong-lorong jalan sambil berpikir, sementara kaedua kakinya terus mengantarkannya menuju pasar. Para pedagang menggelar barang dagangannya dengan gembira karena lebaran kian dekat.
"Tuhanku, apa yang harus aku lakukan?"  Abdullah berbisik dalam hatinya dengan sedih sambil melangkah. Di sebuah lorong yang sempit, ia berjalan seraya menundukkan kepala bagai oarang yang putus asa sedang mencari sesuatu yang telah lama hilang. Tiba2 ia melompat gembira, jantungnya berdegup kencang, kedua matanya berbiar, pandangannya tertumpu pada sebuah dompet kuno yang sudah lapuk.
Abdullah segera memungutnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, khawatir bila seseprang memergokinya. Saat itu lorong kebetulan sepi. Ia membuka dompet itu dengan sangat hati-hati. Betapa terkejutnya ia saat melihat uang kertas yang amat banyak didalamnya. Ia tidak pernah melihat uang sebanyak itu sejak lahir. Ia membuka kancing bajunya lalu memasukkan dompet itu kedalamnya. Ia lalu berlari kencang seakan terbang diudara.
"Apa yang terjadi pada dirimu, hai Abdullah?"      Ibunya berteriak saat melihat anaknya datang dengan napas tersengal-sengal. Abdullah tidak mampu menjawab, ia hanya menunjukkan dompet tadi ke ibunya, bagaikan seorang yang menyerahkan kemenangan, ibunya mengernyitkan dahi dan memandangnya dengan sorotan mata tajam.
"Tidak bu, aku menemukannya di sebuah lorong," tukas Abdullah gugup. Ia seakaan tahu bahwa ibunya menyangkanya mencuri dompet itu. Ia memandangi wajah adik-adiknya yang berada disekitarnya, lalu berkata, "Aku akan membelikan kalian segalanya, pakaian, kembang gula, mainan, dan lain-lainnya."
"Dari mana kau dapatkan ini?!"  tanya ibunya penasaran.
"Bukankah sudah aku katakan bahwa aku menemukannya di lorong. Apakah ibu tidak mempercayaiku?"  jawabnya.
Itu bukan milikmu! Itu milik seseorang," tukas ibunya.     "Kau harus mengembalikannya kepada pemiliknya. Kalau tidak....!" lanjut ibunya sambil mengancam.
Abdullah berkata " Tidak bu, aku tidak bisa mengembalikannya, karena tidak tahu pemiliknya. Saat itu lorong sepi, mungkin ini anugerah Allah untuk kita di malam lebaran."
"Anugerah Allah lebih mulia dari sesuatu yang kau dapatkan dengan cara seperti itu!" balas ibunya seraya menatap langit.   "Berusahalah mencari pemiliknya, anakku. Mungkin ia orang yang memerlukan uang itu seperti kita."
"Tidak, tidak, bu, " tukas Abdullah sambil mengencangkan genggamannya pada dompet itu.
Seketika ibunya berteriak marah, "Kalau begitu, keluarlah dari rumah! Ibu tidak ingin melihat wajahmu lagi."
Abdullah keluar dan segera menutup pintu. Ia pergi ke pasar sambil berangan-angan membeli pakaian baru untuk lebaran.
Seperti lilin yang mencair, perlahan-lahan kegembiraan dalam hati Abdullah pun sedikit demi sedikit lenyap, hingga ketika sampai di pasar ia merasa sedih. Dari hatinya yang paling dalam ia berpikir, seandainya ia tidak menemukan dompet itu, tentu hati ibunya tidak terluka. Abdullah berpikir dan terus berpikir.
"Mungkin ibuku benar, siapa tahu pemilik dompet ini telah mempersiapkan uang ini jauh-jauh hari untuk membeli pakaian lebaran bagi anak-anaknya. Mungkin sekarang ia sedang risau mencari ke sana ke sini tanpa hasil. Tuhanku, apa yang harus aku lakukan....?"  Abdullah bertanya dalam hatinya seraya menengadah ke langit seakan mencari jawaban.
"Oh, seandainya aku tidak mengusirnya....," pikir sang ibu sambil merapikan kasur anak-anaknya. Salah satu anaknya menjerit dan menangis, " Aku tidak ingin tidur, aku akan menunggu Abdullah pulang."   Anak yang lain berkata, "Aku juga tidak akan tidur. Abangku berjanji akan membeli sepatu baru untukku."
Gelombang kegalauan dan kekhawatiran menerpa hati sang ibu. Beberapa saat lalu, gelap telah menyelimuti angkasa. Sedangkan Abdullah belum juga pulang ke rumah. Ia berpikir apa yang bisa dilakukannya? Ia hanya bisa menanti, sementara pikirannya melayang-layang dihembus kerisauan. Dari dalam lubuk hatinya, sang ibu berteriak, "Wahai Yang Maha Menutup aib, wahai Tuhan!"
"Anak-anak terjaga saat mendengar beberapa kali ketukan pintu. Sang ibu terperanjat. Salah satu anak melompat dan membuka pintu. "Abdullah sudah pulang.....," teriaknya. Semuanya berhamburan menyambut kedatangan Abdullah. Mereka tercengang melihat abang mereka menjinjing aneka bungkusan warna-warni, kembang gula, buah-buahan, pakaian dan kotak-kotak kecil berisi mainan.
Sang Ibu bertanya-tanya dalam hati keheranan, "Bagaimana ia bisa membawa bungusan-bungkusan yang banyak ini?" Ia segera masuk ke kamar, sementara perasaan cemas meremas hatinya, hingga ia tak ikut merasakan tawa gembira anak-anak yang menerima bingkisan lebaran itu.
Bintang-gemintang seakan tersenyum di langit yang jernih di malam itu. "Ini hadiah untukmu, Bu," ucap Abdullah seraya menyodorkan kain indah.
Sang ibu menapik dengan tangannya. Seakan menolak benda kotor, ia berkata, "Tidak anakku, aku lebih baik memakai kafan daripada hadiahmu ini. Kembalikan kepada pemiliknya!"
"Dialah yang memberikan ini sebagai hadiah....apakah ibu menolak hadiah juga?"
Sang ibu mengamati wajah Abdullah sambil mencari-cari jawaban dan menduga-duga.
"Aku akan ceritakan semuanya pad ibu,"  tandas Abdullah sambil duduk dihadapan ibunya.
"Aku telah mengembalikan dompet itu tadi kepada orang tang ibu kenal, dia adalah tetangga kita yang baik hati, Pak Sholeh. Aku yakin ibu dapat membayangkan bagaimana gembiranya ia saat aku kembalikan dompetnya yang terjatuh. Ia berkata dengan gembira sampai meneteskan air mata bahwa itu satu-satunya yang ia miliki, lalu berkata pada teman-temannya, "Dunia tidak akan pernah kosong dari orang-orang baik."
"Ia mendesakku untuk menerima sebagian uang untuk membeli bingkisan hari raya. Lalu ia berkata, "Di mana saja kau? Aku sejak lama mencarimu!" Padamulanya aku terheran-heran dengan ucapannya itu, tapi akhirnya paham ketika pak Sholeh melanjutkan ucapannya, "Maksudku, sejak lama aku mencari anak yang jujur sepertimu,"
"Bu, itu berarti mulai saat ini aku bukan anak yang tidak memiliki pekerjaan." Abdullah menceritakan hal itu sambil mengusap air mata ibunya. Ia kini bekerja untuk Pak Sholeh, pekerjaannya mulia dan tidak mengganggu sekolahnya.
Merekahlah senyum diwajah sang ibu, Sesaat kemudian, wanita itu memeluk anaknya seraya berbisik, "Beginilah semestinya anugerah Allah, anakku...."

Oleh: Kemal as Sayyid

Sabtu, 25 Agustus 2012


rMembangun Sukses Dari Hal Yang Kita Sukai


Jumat, 03 Agustus 2012

2008 di Pinggirn Dewi Lestari Pagi menjelang siang tadi, anak laki-laki saya, Keenan, tiba-tiba menarik tangan saya dan menggiring saya menuju sendal capit yang terparkir di teras depan. Saya sudah hafal aktivitas yang dia maksud, sekaligus rute perjalanan yang menanti kami. Inilah acara jalan kaki yang kerap ia tagih, yakni satu kali putaran ke jalan belakang dimana tidak ada rumah di sana, hanya tanah kosong berilalang tinggi. Jalan itu menurun dan curam, berbatu-batu besar dan banyak dahan berduri di pinggir kiri-kanan. Terakhir kami berjalan ke sana, kaki Keenan sempat luka karena tersobek duri, tapi entah mengapa ia selalu memilih jalur yang sama. Sejak sebelum kami berjalan kaki, saya sudah mengamati pagi pertama tahun 2008 ini. Langit yang berawan, angin yang bertiup kencang, dan meski matahari bersinar cukup terang dan terlihat angkasa biru di balik timbunan awan, saya tak bisa mengatakan bahwa ini pagi yang cerah. Masih terasa jejak mendung peninggalan hujan semalam. Kendati demikian, pagi ini pun tak bisa disebut pagi yang mendung. Sambil berjalan, saya merenungi kesan-kesan saya mengenai pergantian tahun kali ini. Ada keinginan kuat untuk menuliskan sesuatu, semacam refleksi dan sejenisnya. Tapi saya tak tahu harus memulai dari mana, harus menulis apa. Yang ada hanyalah keinginan menulis, tapi tanpa konten. Sejujurnya, alam pagi hari ini cukup mewakili apa yang saya rasakan. Saya melewati pergantian tahun ini dengan 'bu-abu'. Tak melulu berspiritkan optimisme dan positivitas, tak juga melulu pesimistis dan negativitas. Semuanya hadir bersamaan dengan kadar yang kurang lebih seimbang, sehingga rasa yang tertinggal di batin saya adalah... netral dan datar. Berbeda dengan kebiasaan saya, terutama di usia 20-an, yang selalu rajin bahkan mensakralkan kebiasaan menulis resolusi, evaluasi, pengharapan dan impian, kali ini saya tak berbekalkan apaapa. Tak ada resolusi, tak ingin mengevaluasi. Harapan dan impian, yang biasanya kita bawa layaknya tongkat estafet dalam pacuan panjang bernama hidup ini, kali ini bahkan absen dari tangan saya. Cengkeraman jemari saya rasanya tak cukup kuat untuk itu. Bukannya kedua hal itu tak ada, tapi malas rasanya menggenggam. Yang ada hanyalah langkah demi langkah kaki di jalanan berbatu, bertemankan suara gesekan ilalang dan terik matahari yang kian menggigit tengkuk. Keenan pun menolak digenggam. Dengan semangat, ia berjalan dengan gagah berani tanpa mau saya gandeng. Ia sibuk mengumpulkan batu-batu yang pada akhir perjalanan kami akan dicemplungkannya satu demi satu ke selokan. Dengan kedua tangan penuh bongkah batu, ia berjalan sedikit di depan saya. Tepat di turunan curam, tiba-tiba ia tergelincir dan jatuh menengadah. Seketika ia menangis, kaget bukan main. Semua batu di genggamannya lepas. Cepatcepat saya meraih dan memeluknya. Saya melihat sekeliling, betapa banyak batu besar yang bisa saja menjadi landasan kepalanya saat jatuh tadi. Saya pun menyadari perjalanan kecil ini bisa jadi perjalanan yang berbahaya. Sambil terisak, Keenan mengucap sendiri, "Tidak apa-apa... Keenan tidak apa-apa." Dan entah mengapa, respons saya padanya adalah, "Ya, tidak apa-apa. Keenan sekali-sekali harus tahu rasanya jatuh." Lalu kami berdua meneruskan perjalanan. Tak sampai tiga langkah, ia sudah minta turun lagi dari gendongan saya. Kembali berjalan sendiri, memunguti batu-batu baru, yang pada akhir perjalanan kami dicemplungkannya satu demi satu ke selokan. Saya menunggui Keenan berupacara di pinggir selokan sambil merenungi perjalanan kami pada pagi hari pertama tahun 2008 ini. Akhirnya saya mendapatkan sebuah 'pesan'. Terlepas dari kepercayaan kita pada sosok Tuhan personal maupun impersonal, semua dari kita setidaknya pernah merasakan hadirnya sebuah kekuatan, energi agung, atau apapun itu, yang tak luput menemani setiap langkah perjalanan hidup kita. Saat kita asyik berjalan, mengumpulkan segala sesuatu yang kita ingin raih, kita tak terlalu menghiraukan kehadiran 'sesuatu' itu. Namun saat kita tergelincir dan terenyak luar biasa, segala sesuatu yang kita cengkeram pun lepas.  Tangan kita kembali kosong. 'Sesuatu' itu akhirnya punya kesempatan untuk muncul dan menyeruak, meraih tangan kita yang sedari tadi sibuk menggenggam. Lama atau sekejap kita didekap, selama perjalanan ini belum usai, tak urung kita akan kembali melangkah. Mengumpulkan kembali pengalaman demi pengalaman yang kita perlukan. Sambil berjongkok di pinggir selokan, saya merenungi 'batu-batu' yang selama ini saya genggam. Besar-kecil, jelek-bagus, semua itu saya kumpulkan karena itulah yang saya perlukan. Jika hidup adalah siklus berputar dalam satu pusaran, cukup relevan jika saya menganalogikannya dengan trayek yang saya tempuh hampir setiap hari bersama Keenan itu. Jalanan berselimut batu, yang meski begitu sering saya jalani, tak pernah saya tahu batu mana yang akan saya genggam berikutnya, dan batu mana yang akan saya lepas sesudah ini. Tak pernah juga saya tahu, kapan saya akan tergelincir dan terpaksa melepaskan semua yang selama ini erat digenggam. Sekalipun tahun baru ini saya songsong tanpa resolusi dan evaluasi, ada satu keyakinan yang mengiringi langkah saya pulang ke rumah pagi ini. Jika batu dalam genggaman tangan saya lepas, berarti sudah saatnyalah ia lepas. Jika perjalanan ini belum usai, maka kaki ini meski lelah dan penat akan kembali terus melangkah. Jika saya tergelincir nanti, maka sesuatu akan menyeruak muncul dari kekosongan, meraih tangan saya yang hampa dan kembali membawa saya bangkit berdiri. Saya tak ingin memberinya nama. Saya tak ingin menjeratnya dalam sebuah identitas. Yang saya tahu, saya bersisian dengannya. Seperti partikel dengan gelombang. Seperti alam material dan imaterial. Sedikit batu atau banyak batu, melangkah cepat atau lambat, tergelincir atau terjerembap, ia berjalan seiring dengan napas dan denyut saya. Ia membutuhkan saya sama halnya dengan saya membutuhkannya. Dan hanya dalam keheningan, kami berdua hilang. Dalam keheningan, kami bersatu dalam ketiadaan. Mendadak, adanya resolusi atau tidak, bukan lagi satu hal signifikan. Mendadak, hari ini menjadi hari yang sama berharganya sekaligus sama ain.